PONTIANAK – Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Pontianak mencatat telah melaksanakan sebanyak 95 operasi pencarian dan pertolongan sepanjang tahun 2025 di wilayah Kalimantan Barat. Operasi tersebut meliputi penanganan kecelakaan kapal, kondisi membahayakan manusia, hingga bencana alam.

Berdasarkan data SAR Pontianak, dari total operasi yang dilakukan, sebanyak 204 orang berhasil diselamatkan. Sementara itu, 48 korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan 22 orang lainnya masih dinyatakan hilang atau belum ditemukan hingga akhir tahun.

Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra, menjelaskan bahwa kecelakaan kapal menjadi kejadian paling dominan sepanjang 2025 dengan total 39 kasus. Selain itu, terdapat 50 kejadian kondisi membahayakan manusia dan enam peristiwa bencana alam.

“Insiden kecelakaan kapal paling banyak terjadi pada Februari, April, dan Oktober, masing-masing lima kejadian. Sedangkan kondisi membahayakan manusia paling sering terjadi pada April dengan sembilan kejadian,” ujar Junetra, Jumat (9/1/2026).

Adapun peristiwa bencana alam tercatat paling banyak terjadi pada Januari dan Maret, masing-masing tiga kejadian, yang sebagian besar berkaitan dengan cuaca ekstrem dan banjir di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

Junetra mengungkapkan, dalam pelaksanaan operasi SAR, tim di lapangan kerap menghadapi berbagai kendala, khususnya saat menangani bencana banjir.

“Hambatan yang sering dihadapi antara lain derasnya arus air, terputusnya akses menuju lokasi kejadian, cuaca ekstrem, serta keterbatasan sinyal komunikasi yang berdampak pada koordinasi di lapangan,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa seluruh operasi pencarian dan pertolongan tetap dilaksanakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Korban yang berhasil diselamatkan segera mendapatkan pertolongan pertama sebelum dievakuasi ke fasilitas kesehatan.

“Untuk korban meninggal dunia, proses evakuasi dilakukan dengan mengutamakan keselamatan petugas, menjunjung etika kemanusiaan, dan selanjutnya diserahkan kepada pihak berwenang serta keluarga korban,” tambahnya.

Memasuki tahun 2026, Kantor SAR Pontianak berkomitmen meningkatkan kesiapsiagaan, kapasitas personel, serta kecepatan respon dalam menghadapi berbagai situasi darurat di Kalimantan Barat.

“Kami siap memperkuat respons terhadap bencana alam, kecelakaan kapal, orang tenggelam, orang hilang di hutan, maupun kondisi darurat lainnya yang membahayakan keselamatan manusia,” tegas Junetra.

SAR Pontianak juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya di tengah potensi cuaca ekstrem, serta segera melaporkan kejadian darurat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan efektif. (Ara)