Kisah Ojol di Pontianak Bertahan di Bulan Ramadhan, Menafkahi Empat Anak dari Orderan Tak Menentu
PONTIANAK – Bulan Ramadhan membawa tantangan tersendiri bagi para pengemudi ojek online (ojol) yang setiap hari bekerja di jalanan. Di tengah panas terik, hujan yang datang tiba-tiba, hingga jumlah pesanan yang tidak menentu, mereka tetap berusaha mencari nafkah untuk keluarga.
Salah satunya adalah seorang pengemudi ojol yang akrab disapa Bang Een Panglimu Kumbang (45). Ia telah menjalani profesi tersebut sejak 2017 untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama istri dan empat anaknya yang masih bersekolah.
Saat ditemui di kawasan Jalan Sungai Raya Dalam, Minggu (8/3/2026), ia mengatakan aktivitas bekerja selama bulan Ramadhan berbeda dibandingkan hari biasa. Ia memilih mengurangi jam kerja agar dapat menyesuaikan waktu ibadah.
“Kalau bulan puasa biasanya saya bekerja dari pagi sampai sekitar jam enam sore. Kalau hari biasa bisa sampai jam sembilan atau sepuluh malam,” ujarnya.
Pendapatan yang diperoleh pun tidak menentu. Dalam sehari, ia mengaku terkadang hanya membawa pulang sekitar Rp100 ribu, bahkan bisa lebih sedikit tergantung jumlah pesanan yang diterima.
“Pendapatannya tidak pasti. Kadang bisa sampai seratus ribu rupiah, kadang di bawah itu,” katanya.
Selain penghasilan yang tidak stabil, kondisi cuaca juga menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari. Menurutnya, bekerja di jalan membuat pengemudi ojol harus siap menghadapi panas maupun hujan saat mengantar pesanan atau penumpang.
“Kalau hujan ya kita tetap jalan, kalau panas juga sama. Kadang juga sulit mencari alamat pengantaran,” ungkapnya.
Di balik rompi yang dikenakannya, terdapat sejumlah pin kecil yang terpasang. Pin tersebut menjadi simbol perjalanan panjangnya selama berkecimpung di dunia ojol.
Ia bahkan pernah dipercaya menjadi Ketua Paguyuban Ojek Online Kalimantan Barat yang menaungi sekitar 100 komunitas pengemudi ojol di wilayah Pontianak dan Kubu Raya.
“Dulu saya pernah jadi ketua paguyuban. Di bawahnya ada sekitar seratus komunitas ojol,” kenangnya.
Bagi dirinya, bantuan sembako yang diterima pada bulan Ramadhan sangat membantu kebutuhan keluarga. Ia berharap semakin banyak pihak yang peduli terhadap para pekerja informal seperti pengemudi ojol.
“Harapannya semoga semakin banyak yang peduli dan bisa berbagi kepada kami,” katanya.
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, ia memiliki harapan sederhana, yakni dapat membelikan sesuatu untuk anak-anak dan istrinya.
“Semoga nanti bisa membeli sesuatu untuk anak dan istri saat lebaran. Yang penting Ramadhan ini penuh berkah sampai akhir,” tutupnya. (Ara)

Tinggalkan Balasan