KUBU RAYA – Di balik hamparan hutan dan perbukitan di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, terdapat sebuah destinasi wisata yang menawarkan lebih dari sekadar panorama alam. Bukit Cinta Alam (BCA) menyimpan jejak sejarah, legenda masyarakat, hingga peninggalan masa pendudukan Jepang yang masih dapat ditelusuri hingga kini.

Bukit yang sebelumnya dikenal sebagai Bukit Batu Ampar itu kini diberi nama Bukit Cinta Alam oleh Bupati Kubu Raya, Sujiwo, sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas destinasi wisata alam yang tengah dikembangkan di wilayah pesisir Kubu Raya.

Perjalanan menuju puncak dimulai dari halaman Koramil Batu Ampar. Jalur pendakian yang relatif landai membawa pengunjung melewati Pos 1, lokasi yang menjadi rumah bagi salah satu ikon kawasan tersebut, yakni Batu Kapal.

Sesuai namanya, batu granit berukuran besar itu memiliki bentuk menyerupai kapal. Masyarakat setempat meyakini formasi alam tersebut menyerupai anjungan, layar, hingga lubang jangkar sebuah kapal, sehingga sejak lama dikenal sebagai Batu Kapal.

Tokoh pemuda Batu Ampar, Eko Winanda, mengatakan Batu Kapal telah menjadi bagian dari cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Batu Kapal berkaitan dengan legenda Pulau Gelanggang yang konon menjadi lokasi pertempuran para perompak atau bajak laut yang pernah memperebutkan wilayah perairan Batu Ampar.

“Belum ada catatan sejarah tertulis yang membuktikan kisah tersebut. Namun cerita itu terus diwariskan oleh para orang tua kepada generasi berikutnya dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Batu Ampar,” ujar Eko, Sabtu (27/6/2026).

Selain legenda, Bukit Cinta Alam juga menyimpan jejak sejarah masa pendudukan Jepang. Di kawasan puncak masih terdapat bekas lokasi helipad yang diyakini dibangun pada masa itu, serta sisa menara radio yang dahulu digunakan sebagai sarana komunikasi.

“Lokasi helipad peninggalan Jepang itu masih dapat dikenali hingga sekarang dan menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung,” katanya.

Batu Kapal juga pernah menjadi lokasi yang dipercaya memiliki nilai spiritual oleh sebagian masyarakat. Eko menuturkan, pada masa lalu banyak warga datang ke kawasan tersebut untuk berdoa maupun menjalankan ritual sesuai kepercayaan yang berkembang pada saat itu.

“Ketika kami masih kecil, sering melihat orang membawa sesaji berupa makanan ke Batu Kapal. Setelah mereka pulang, anak-anak biasanya mengambil makanan yang ditinggalkan,” kenangnya.

Dari puncak Bukit Cinta Alam, wisatawan dapat menikmati panorama Sungai Kapuas, hamparan hutan mangrove, Pulau Gelanggang, Bukit Menggelinang, Bukit Teluk Air, hingga gugusan perbukitan yang mengelilingi kawasan Batu Ampar.

Menurut Eko, potensi wisata Batu Ampar tidak hanya terbatas pada Bukit Cinta Alam. Masih terdapat sejumlah destinasi lain seperti Bukit Lalang dan Bukit Batu Gajah yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata alam dan edukasi.

Ia berharap pengembangan sektor pariwisata mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat setempat yang selama ini banyak menggantungkan penghasilan dari usaha arang bakau dan sektor perikanan.

“Kami ingin wisatawan datang bukan hanya menikmati pemandangan, tetapi juga mengenal sejarah, legenda, dan budaya yang menjadi identitas Batu Ampar,” ujarnya.

Eko juga menegaskan masyarakat memiliki komitmen menjaga kelestarian kawasan hutan di sekitar bukit. Meski bukan kawasan hutan lindung, wilayah tersebut menjadi sumber utama air bersih bagi warga sehingga kelestariannya terus dijaga melalui kearifan lokal.

“Kalau hutannya rusak, sumber air bersih kami juga akan hilang. Karena itu masyarakat sepakat menjaga kawasan ini agar tetap lestari,” katanya.

Perpaduan panorama alam, legenda Batu Kapal, jejak sejarah masa pendudukan Jepang, serta komitmen masyarakat menjaga lingkungan menjadikan Bukit Cinta Alam sebagai destinasi wisata yang menawarkan pengalaman berbeda. Pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga diajak menyelami sejarah dan cerita yang telah hidup di tengah masyarakat Batu Ampar selama bergenerasi. (Ara)