PONTIANAK – Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya terus terjadi dalam dua hari terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), bahkan sebagian warga mulai melakukan panic buying dengan mengisi penuh tangki kendaraan atau membeli BBM eceran.

Pantauan di sejumlah SPBU menunjukkan antrean kendaraan roda dua maupun roda empat mengular sejak Senin (27/7/2026) hingga Selasa (28/7/2026). Tidak sedikit pengendara yang mengaku harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.

Salah seorang warga Pontianak, Marvi, mengatakan dirinya telah mengantre cukup lama untuk membeli Pertalite. Namun, ketika tiba di giliran pengisian, stok Pertalite disebut telah habis sehingga petugas mengarahkan konsumen menggunakan Pertamax.

“Saya sudah antre berjam-jam sejak semalam. Saat sampai di pengisian, Pertalite ternyata sudah tidak ada dan diarahkan membeli Pertamax. Karena antreannya masih sangat panjang, saya akhirnya memilih membeli BBM eceran. Ternyata di penjual eceran juga ikut mengantre,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat keresahan masyarakat semakin meningkat. Sebagian warga memilih segera mengisi penuh tangki kendaraan sebagai langkah antisipasi apabila pasokan BBM kembali mengalami keterlambatan.

Menanggapi situasi tersebut, Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Agus Sudarmansyah, menilai antrean panjang yang terjadi di berbagai SPBU merupakan indikasi terganggunya distribusi BBM di Kalimantan Barat.

Menurutnya, antrean tidak hanya terjadi pada BBM subsidi, tetapi juga jenis non-subsidi sehingga perlu menjadi perhatian serius.

“Saya melihat sejak kemarin hingga hari ini antrean terjadi hampir di seluruh wilayah Pontianak, Kubu Raya, dan sekitarnya. Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan distribusi BBM yang harus segera ditangani,” kata Agus.

Ia mengingatkan bahwa persoalan distribusi seharusnya sudah dapat diprediksi sejak awal, terutama memasuki musim kemarau ketika debit Sungai Kapuas menurun dan pendangkalan alur pelayaran di Muara Jungkat berpotensi menghambat distribusi BBM melalui jalur sungai.

Agus mengaku persoalan tersebut telah beberapa kali disampaikan dalam berbagai forum bersama pihak terkait. Karena itu, ia berharap langkah antisipatif telah disiapkan jauh sebelum kondisi seperti sekarang terjadi.

“Kondisi musim kemarau sudah diperkirakan sebelumnya. Distribusi seharusnya dapat diantisipasi sehingga masyarakat tidak mengalami kesulitan memperoleh BBM,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan telah menerima laporan adanya kelangkaan BBM di Kabupaten Ketapang yang disebut berlangsung sekitar sepekan. Jika tidak segera diatasi, kondisi serupa dikhawatirkan meluas ke wilayah lain di Kalimantan Barat.

Untuk itu, Agus mendesak Pertamina segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi BBM di Kalimantan Barat sekaligus memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat mengenai penyebab antrean yang terjadi.

“Yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah kepastian pasokan dan informasi yang jelas. Evaluasi harus segera dilakukan agar distribusi kembali normal dan aktivitas masyarakat tidak terganggu,” tegasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, antrean kendaraan masih terlihat di sejumlah SPBU di Pontianak dan Kubu Raya. Belum ada keterangan resmi dari pihak Pertamina mengenai penyebab antrean panjang maupun perkembangan distribusi BBM di Kalimantan Barat. (Ara)