Produksi Pandai Besi Binaan PTPN IV PalmCo, Subholding PTPN III (Persero) Capai 30.000 Unit Perbulan
PEKANBARU – Di Desa Teratak, denting besi yang dihantam mesin bertalu-talu menjadi denyut kehidupan masyarakat. Percikan api serta suara mesin gerinda dan cutting laser menghidupkan aktivitas ekonomi para pandai besi yang tergabung dalam CV Mola Maju Basamo (MMB).
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PTPN IV PalmCo, subholding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), turut mengambil peran dalam mendorong transformasi usaha masyarakat tersebut.
Terbaru, perusahaan menyalurkan bantuan senilai Rp115 juta berupa air hammer dan automatic grinder yang mampu meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan. Dari semula sekitar 3.000 unit alat perkebunan per bulan, kini produksi meningkat hingga mencapai 30.000 unit per bulan.
Kehadiran PTPN IV PalmCo di Desa Teratak bukan berlangsung secara instan, melainkan melalui proses pendampingan berkelanjutan yang dibangun dalam semangat kebersamaan dan kolaborasi sejak masa pandemi COVID-19.
Pimpinan CV Mola Maju Basamo, Desrico Apriyus, mengatakan titik balik perkembangan usaha mereka bermula pada 2020, ketika pandemi menyebabkan banyak pelaku usaha mengalami kesulitan.
“Waktu itu hampir semua orang kesulitan menjual produk. Ekonomi seperti lumpuh. Tapi justru di situ PTPN hadir. Mereka menyerap produk kami, membimbing kami, dan membantu kami, sehingga kami tetap bisa berproduksi di tengah situasi yang sulit,” ujarnya.
Seiring waktu, kemitraan tersebut berkembang semakin kuat. Pada tahun berikutnya, PTPN turut memberikan dukungan permodalan melalui program kemitraan senilai Rp800 juta.
Dukungan tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan usaha. Bengkel-bengkel kecil yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri mulai terkonsolidasi menjadi sentra produksi yang lebih terorganisasi. Kelompok Usaha Bersama (KUB) pun berkembang menjadi badan usaha yang lebih profesional.
Produk yang sebelumnya dipandang sebelah mata kini telah berkembang menjadi produk unggulan desa dan mengantongi sertifikasi nasional. Teknologi produksi juga mulai diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas usaha. “Tanpa kehadiran PTPN, sulit dibayangkan kami bisa menghasilkan produksi sampai 1.000 produk per hari,” ujarnya.
Desrico menjelaskan bahwa dukungan PTPN kini menjadi tulang punggung usaha masyarakat desa. Di bengkel produksi yang berada di bawah rindangnya pohon mahoni, terdapat empat unit air hammer yang digunakan untuk memproduksi alat pertanian. “Ini semua dari PTPN. Ada yang bantuan bergilir dan bergulir, ada yang hibah,” tuturnya.
Peningkatan kapasitas produksi turut berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Jumlah pekerja yang sebelumnya hanya belasan orang kini meningkat menjadi 23 karyawan dan diproyeksikan bertambah menjadi 33 orang dalam waktu dekat. Selain itu, sekitar 100 pemuda desa juga dilibatkan sebagai mitra pemasaran, baik secara daring maupun langsung kepada pasar dan petani.
“Multiplier effect-nya jelas. Dengan produksi meningkat, kami butuh lebih banyak tenaga kerja. Itu membuka lapangan pekerjaan. Masyarakat juga ikut merasakan dampaknya,” paparnya.
Peningkatan produktivitas usaha juga berdampak pada kesejahteraan pekerja. Jika sebelumnya penghasilan relatif terbatas, kini rata-rata pekerja memperoleh pendapatan sekitar Rp7 juta per bulan dan diproyeksikan meningkat hingga Rp10 juta sampai Rp15 juta per bulan.
Tak hanya berdampak secara ekonomi, geliat usaha tersebut juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat Desa Teratak. Sebagian keuntungan usaha mulai dialokasikan untuk mendukung berbagai kegiatan sosial masyarakat.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menegaskan bahwa program TJSL perusahaan dirancang untuk menciptakan dampak jangka panjang dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan perusahaan harus berjalan seiring dengan keberlanjutan masyarakat di sekitarnya. Karena itu, program TJSL kami arahkan untuk menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan mendorong kemandirian ekonomi,” kata Jatmiko.
Ia menambahkan, kemitraan dengan kelompok usaha seperti pandai besi di Kampar merupakan bagian dari upaya perusahaan memperkuat rantai pasok industri perkebunan yang inklusif sekaligus memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.
Kini, di Desa Teratak, denting besi yang dahulu sekadar rutinitas kerja telah menjelma menjadi simbol kebangkitan ekonomi masyarakat. Dari bara yang ditempa setiap hari, lahir bukan hanya alat-alat perkebunan, tetapi juga harapan bagi masa depan desa dan generasi mudanya.

Tinggalkan Balasan