Sujiwo Dorong Tradisi Robo-Robo Dilestarikan dan Dikemas Lebih Modern
KUBU RAYA – Bupati Kubu Raya Sujiwo mendorong tradisi Robo-Robo terus dilestarikan sebagai warisan leluhur yang memiliki nilai budaya dan spiritual bagi masyarakat Bugis dan Melayu.
Menurut Sujiwo, Robo-Robo tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga mengandung nilai keagamaan. Salah satunya melalui doa selamat yang menjadi ikhtiar masyarakat untuk memohon perlindungan dari berbagai marabahaya, bencana, wabah dan penyakit.
“Robo-Robo ini sebenarnya warisan leluhur, berupa budaya yang sangat mulia. Ini budaya masyarakat, saudara kita, khususnya Bugis dan Melayu. Sebenarnya ini sangat islami, nilai spiritualnya juga luar biasa,” ujar Sujiwo, Rabu (12/8/2026).
Sujiwo menilai keberlangsungan tradisi Robo-Robo sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Menurutnya, tanpa adanya kepedulian dan upaya untuk mewariskan tradisi tersebut, Robo-Robo berpotensi semakin ditinggalkan seiring perkembangan zaman.
“Budaya Robo-Robo ini yakinlah suatu ketika bisa punah apabila dari sekarang pewarisnya tidak menjaga, merawat, memelihara, menyayangi dan mencintai budaya itu,” katanya.
Karena itu, Sujiwo mengusulkan agar pelaksanaan Robo-Robo tetap mempertahankan nilai dan filosofi tradisi, namun dikemas dengan konsep yang lebih kreatif dan modern. Langkah tersebut dinilai penting agar Robo-Robo dapat menarik minat generasi muda sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya.
Menurutnya, rangkaian kegiatan dapat diperkuat dengan pertunjukan seni dan tari tradisional, pengenalan budaya lokal, hingga pelibatan pelaku UMKM dan kuliner khas daerah. Penataan kawasan juga dinilai menjadi faktor penting untuk memberikan pengalaman yang lebih baik kepada pengunjung.
“Begitu kemasannya bagus, ada penampilan tarian-tarian, budaya dimunculkan, UMKM-nya bagus, bersih dan tertata, makanannya, kulinernya juga enak dan variatif. Orang akan terkesan, sehingga tahun depan mereka memastikan akan datang lagi di acara Robo-Robo,” jelasnya.
Sujiwo menilai konsep tersebut dapat menjadikan Robo-Robo sebagai agenda budaya yang semakin dikenal, tidak hanya oleh masyarakat setempat, tetapi juga warga dari Mempawah, Pontianak, Sambas dan daerah lainnya.
Ia juga membandingkan upaya pengembangan Robo-Robo dengan sejumlah kesenian tradisional di daerah lain yang mampu bertahan karena mengikuti perkembangan zaman dari sisi penyajian dan kemasan, tanpa meninggalkan akar budayanya.
Sujiwo mengajak masyarakat Bugis dan Melayu, khususnya generasi muda, untuk mengambil peran dalam menjaga keberlangsungan Robo-Robo. Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama antara masyarakat, pemerintah dan generasi penerus.
Ia mengakui pelaksanaan Robo-Robo tahun ini telah menunjukkan perkembangan dibandingkan sebelumnya, meski masih terdapat sejumlah aspek yang perlu dibenahi.
“Alhamdulillah tahun ini tampilannya sudah lumayan bagus, walaupun belum sempurna,” tuturnya.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya juga akan mendorong penataan kawasan secara lebih menyeluruh. Penataan tersebut mencakup kawasan Taman Paskap, Tempat Pelelangan Ikan (TPI), kawasan pujasera serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya.
Sujiwo mengatakan pengembangan kawasan dan pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini telah berkontribusi dalam pembangunan Kubu Raya.
“Saya tidak akan pernah malu, tidak akan pernah lelah, tidak akan pernah capek untuk selalu minta bantuan dan berkolaborasi. Pembangunan di Kubu Raya sampai ke titik ini salah satunya juga berkat peran beliau,” pungkasnya.
Pelestarian Robo-Robo diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan. Dengan penguatan nilai budaya, pelibatan generasi muda dan kemasan yang lebih menarik, tradisi tersebut diharapkan tetap hidup sekaligus berkembang menjadi salah satu potensi wisata budaya Kubu Raya. (Ara)

Tinggalkan Balasan