Holding Perkebunan Nusantara Dorong Kemitraan Inklusif, PTPN I Libatkan Petani dalam Rantai Pasok Tembakau Ekspor
JEMBER – Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I Regional 5 terus memperkuat kemitraan dengan masyarakat dalam pengembangan komoditas Tembakau Bawah Naungan (TBN) di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Melalui skema kemitraan yang melibatkan petani pemilik lahan secara langsung, perusahaan tidak hanya menjaga keberlanjutan pasokan tembakau premium untuk pasar ekspor, tetapi juga memperkuat kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Desa Ajong, Kabupaten Jember, merupakan salah satu sentra utama budidaya Tembakau Bawah Naungan yang dikelola PTPN I Regional 5. Komoditas tersebut telah menjadi salah satu produk unggulan yang dipasarkan ke berbagai negara di kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.
Seiring meningkatnya permintaan pasar internasional, PTPN I memilih mengembangkan model kemitraan yang memberikan manfaat bersama antara perusahaan dan masyarakat. Melalui pola tersebut, petani pemilik lahan tetap menjadi bagian dari rantai pasok tembakau ekspor sekaligus memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Direktur Utama PTPN I, Dr. Abdul Rivai Ras, mengatakan kemitraan dengan masyarakat merupakan bagian dari amanat perusahaan sebagai BUMN dalam menciptakan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
“Kolaborasi agribisnis di Ajong, Jember ini dirancang sebagai model bisnis yang inklusif sekaligus berkelanjutan. Di satu sisi, PTPN I mengukuhkan posisinya di pasar internasional lewat keunggulan TBN, dan di sisi lain, petani lokal menghadirkan potensi aset lahan yang luar biasa. Melalui skema rotasi komoditas, kami melakukan sewa lahan persawahan warga secara kompetitif, dengan komitmen penuh bahwa aktivitas produksi dan penggarapan di lapangan tetap memberdayakan pemilik lahan itu sendiri. Dengan pola ganda ini, petani berhak mendapatkan uang sewa di depan sekaligus menerima upah dari hasil pekerjaannya. Melalui pendekatan ini, ‘praja’ alias harga diri mereka sebagai pemilik sawah tetap terjaga seutuhnya. Ini adalah bentuk kolaborasi yang sangat produktif,” ujar Abdul Rivai Ras di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Melalui skema tersebut, petani yang sebelumnya memanfaatkan lahan untuk menanam padi maupun palawija memperoleh kompensasi sewa lahan dengan nilai yang kompetitif, mencapai puluhan juta rupiah per hektare untuk satu musim tanam. Selain menerima pembayaran sewa di awal musim, para pemilik lahan tetap dilibatkan dalam proses budidaya sehingga memperoleh tambahan pendapatan dari aktivitas kerja di lapangan.
PTPN I menegaskan bahwa pola kemitraan tersebut tidak mengurangi hak kepemilikan masyarakat atas lahan yang dimiliki. Sebaliknya, petani tetap mengelola lahannya sekaligus memperoleh kesempatan meningkatkan kapasitas melalui transfer teknologi budidaya pertanian modern.
“Petani pemilik lahan pada dasarnya membutuhkan kepastian hasil, keamanan aset yang mereka miliki, dan rasa percaya diri di hadapan orang lain. Hal yang jauh lebih penting dari program ini adalah para petani pemilik lahan palawija dan padi ini, yang umumnya masih menerapkan budidaya tradisional, kini bisa menyerap pengetahuan dan pengalaman langsung dari model pertanian modern, seperti smart farming berbasis science farming. Dengan ilmu yang ditransfer ini, PTPN I (Persero) berharap mereka bisa lebih mandiri dan sejahtera di masa depan,” tambah Rivai.
Melalui pengembangan kemitraan tersebut, PTPN I menempatkan petani sebagai mitra strategis dalam rantai nilai agribisnis perusahaan. Selain menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku tembakau premium, pola ini juga mendorong peningkatan pendapatan masyarakat melalui kombinasi penerimaan dari sewa lahan dan upah kerja.
Manfaat program tersebut dirasakan langsung oleh Supardi (48), salah seorang petani pemilik lahan di Desa Ajong yang sebelumnya membudidayakan padi dan jagung.
“Kami merasa sangat beruntung dengan adanya program kemitraan lahan dari PTPN I Regional 5 ini. Pembayaran kompensasi yang diselesaikan langsung di depan memberikan kepastian bagi kami untuk menjamin kebutuhan keluarga sekaligus menjadi modal bertani di musim berikutnya. Ditambah lagi, kami tidak kehilangan mata pencaharian karena tetap dilibatkan untuk menggarap lahan sendiri dengan upah harian yang sangat layak. Dengan begitu, kami tetap memiliki rasa bangga dan martabat karena mengawal tanah kami sendiri,” ungkap Supardi.
Model kemitraan yang dijalankan PTPN I Regional 5 terus memperoleh respons positif dari masyarakat. Tingginya partisipasi warga terlihat dari semakin luasnya areal persawahan yang dikerjasamakan setiap musim tanam melalui pola kemitraan tersebut.
Melalui pendekatan yang mengedepankan kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I terus memperkuat komitmennya dalam membangun agribisnis yang berkelanjutan. Kemitraan ini diharapkan tidak hanya menjaga daya saing komoditas tembakau Indonesia di pasar global, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi petani serta mendorong pertumbuhan kawasan di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Tinggalkan Balasan