JAKARTA – Aset PTPN I, Subholding dari Holding Perkebunan Nusantara, memilikiposisi dan infrastruktur sangat mapan dalam mendukung Program PemerataanProduksi Daging dan Telur Nasional dengan konsep Protein Mandiri yang dicanangkan Pemerintah Presiden Prabowo.

Keberadaan unit kerja berupa komplek pabrik dan kebun yang sudah terbangunsesuai tata ruang wilayah dinilai akan sangat menguntungkan untuk program ini. Sebab, aset milik anak usaha PTPN III (Persero) ini mudah diakses, mobilitaslancar, dan fasilitas tanggal klik.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas di Jakarta, Senin (24/11/25). Teddy mengatakan, Tim Survei dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) sudah mulai melakukan peninjauan ke beberapaunit kerja PTPN I yang berada di beberapa provinsi.

“Tim survei dari Kementan sudah turun ke beberapa unit kerja kami di beberapaprovinsi. Jumat lalu (22–23/11/25) di Lampung dan Sumsel di Regional 7. Ada beberapa kebun yang disurvei,” kata Teddy Yunirman Danas.

Menurut Teddy, pilihan kepada unit-unit kerja PTPN I untuk lokasi klaster produksidaging dan telur nasional sudah sangat tepat. Ia menjelaskan, unit kerja PTPN I secara umum berada di lokasi yang sangat strategis untuk suatu industri berbasislingkungan, tetapi jangkauannya mudah dan relatif dekat dengan pusat-pusat kota. Lebih dari itu, areal kebun PTPN I relatif luas dan terpisah dari permukimanmasyarakat umum.

Posisi kebun kami sudah pasti dalam kategori sesuai RTRW (rencana tata ruangwilayah), tetapi relatif tidak jauh dari kota dan aksesnya relatif mudah. Itu karenakebanyakan unit kerja kami kan sudah berdiri sejak lama, bahkan yang merupakanhasil nasionalisasi eks. Belanda, sekarang jadi sangat dekat dengan kota. Kelebihannya, lahan kami cukup luas dan terpisah dari permukiman,” kata Teddy.

Dengan proposal program Pemerataan Produksi Daging dan Telur Nasional, Teddy Yunirman Danas menyebut sinergi ini akan membentuk ekosisten perkebunan dan peternakan dalam satu klaster dan terintegrasi. Basis industri perkebunan denganpeternakan, kata dia, adalah hubungan yang saling menguntungkan dan salingmembutuhkan.

Perpaduan industri perkebunan dan peternakan adalah simbiosis mutualisme, saling menguntungkan dan saling membutuhkan. Perkebunan atau tanamanmembutuhkan pupuk yang bisa diproduksi dari kohe (kotoran hewan), sedangkanternak membutuhkan lingkungan yang tenang, nyaman, dan harus tidakmengganggu lingkungan. Jadi, sinergi untuk integrasi ini sudah sangat pas,” kata dia.

Dengan proposal ini, Teddy Yunirman Danas menegaskan komitmen perusahaanuntuk mendukung program hilirisasi peternakan. PTPN I siap memanfaatkansebagian aset lahan perkebunan untuk klaster peternakan terintegrasi sebagaiwujud diversifikasi bisnis dan kontribusi nyata dalam mewujudkan ketahanan pangannasional.

Di PTPN I Regional 7, Tim Survei Ditjen PKH melakukan peninjauan indikatif kebeberapa kebun. Yakni, di Kebun Kedaton dan Kebun Bergen (Lampung Selatan) dan Kebun Cinta Manis di Lubuk Keliat, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Langkah strategis pemerintah ini diambil untuk mengatasi ketimpangan produksidaging dan telur di luar Pulau Jawa, karena saat ini 63 persen dari total produksitelur dan daging ayam nasional masih terpusat di Pulau Jawa. Kementanmenyiapkan pengembangan klaster produksi di 10 provinsi, meliputi Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan beberapa provinsi lain.

Selain pengembangan klaster, Kementan juga memperkuat hilirisasi ayamterintegrasi melalui pembangunan 323 fasilitas industri ayam (meliputi pembesaran, pemotongan, hingga penyimpanan dingin). Dukungan ini dilengkapi denganpenggunaan anggaran sebesar Rp20 triliun untuk memacu integrasi dan modernisasi sektor unggas.

Upaya besar ini diarahkan untuk mewujudkan konsepSetiap Pulau MandiriProtein”, memastikan pasokan protein hewani di berbagai wilayah dapat dipenuhidari daerah masing-masing, sehingga ketahanan pangan dan keseimbanganekonomi dapat terwujud.