PONTIANAK – Perjalanan Eman Jaklah dan Maharadi dalam merintis usaha kopi tidaklah mudah. Bermula dari konsep coffee street di pinggir jalan, keduanya harus menghadapi berbagai tantangan, termasuk penertiban oleh oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang membuat usaha mereka terpaksa berhenti sementara.

Namun, kondisi tersebut tidak mematahkan semangat Eman dan Maharadi untuk terus berusaha. Dengan tekad dan kreativitas, keduanya kembali bangkit dan perlahan membangun konsep usaha yang lebih matang dan berkelanjutan.

“Kami sempat berada di titik paling sulit saat harus berhenti jualan karena penertiban. Tapi dari situ kami belajar bahwa usaha ini harus naik kelas, tidak bisa selamanya di jalan,” ujar Eman Jaklah, saat ditemui di Kota Kopi, belum lama ini.

Berbekal pengalaman tersebut, Eman dan Maharadi kemudian mendirikan Kota Kopi yang kini berlokasi di Jalan Pangeran Natakusuma, Gang Delima, Pontianak. Kedai kopi ini mengusung nuansa klasik dengan suasana yang nyaman, sehingga menarik minat berbagai kalangan, khususnya anak muda dan pecinta kopi.

Menurut Maharadi, konsep Kota Kopi tidak hanya menitikberatkan pada desain tempat, tetapi juga pada kualitas rasa dan pelayanan.

“Kami ingin Kota Kopi menjadi ruang yang ramah untuk siapa saja. Orang bisa datang untuk ngopi, berdiskusi, atau sekadar melepas penat setelah aktivitas seharian,” katanya.

Selain konsep tempat, Kota Kopi juga dikenal melalui beragam menu minuman unggulan. Salah satu yang paling diminati pelanggan adalah Teh Tarik Penyengat, yang hingga kini menjadi best seller. Selain itu, tersedia pula berbagai pilihan minuman kopi dan non-kopi dengan cita rasa khas racikan sendiri.

“Teh Tarik Penyengat itu awalnya eksperimen, ternyata responsnya sangat bagus. Sampai sekarang masih jadi menu favorit pelanggan,” tambah Eman.

Keberhasilan Kota Kopi menjadi bukti bahwa ketekunan dan kemauan untuk beradaptasi mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang. Dari lapak sederhana di pinggir jalan, Eman Jaklah dan Maharadi kini berhasil menghadirkan Kota Kopi sebagai ruang santai yang terus ramai dikunjungi setiap harinya.

Foto; Eman Jaklah & Maharadi (Dok. Istimewa)