PEKANBARU – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), melalui Subholding PTPN IV PalmCo, memperkuat kontribusinya terhadap ketahanan pangan dan energi nasional sejalan dengan program prioritas Asta Cita Presiden RI. Salah satu bentuk nyatanya adalah upaya peningkatan produktivitas sawit lewat program intensifikasi dan peremajaan kebun di wilayah operasionalnya, termasuk di Riau.

Salah satu lokasi unggulan berada di Kebun Terantam, Kabupaten Kampar, yang dikelola PTPN IV Regional III. Kebun seluas 615,74 hektare itu menampilkan hasil positif dengan panen perdana yang dicapai dalam waktu 2,5 tahun atau 30 bulan sejak masa tanam. Tanaman sawit muda di sana mencatat produktivitas 6,5–7 ton per hektare per tahun, melebihi rata-rata nasional yang berkisar 3–4 ton per hektare.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menyampaikan bahwa capaian Regional III menjadi bukti keberhasilan pendekatan terencana dan konsisten. Dengan produktivitas saat ini sebesar 5,06 ton per hektare, Regional III ditetapkan sebagai pilot project menuju target 7 ton CPO per hektare dalam tiga tahun ke depan. Ia menyebut pencapaian tersebut akan menjadi standar bagi seluruh unit kerja PalmCo di masa mendatang.“Saya bangga karena Regional III mampu menjaga ritme dan hasil kerja yang terstruktur. Ini alasan utama mengapa kami memilih mereka sebagai percontohan nasional,” ujarnya dalam panen perdana di Kampar.

Sementara itu, Region Head PTPN IV Regional III, Ahmad Gusmar Harahap, menjelaskan bahwa keberhasilan ini ditopang penggunaan varietas unggul seperti PPKS 540 dan PPKS SMB (Simalungun), yang memiliki keunggulan dari sisi pertumbuhan cepat dan rendemen minyak tinggi, hingga 88–90 persen.

Ia menambahkan bahwa pengelolaan kebun dilakukan dengan pendekatan best practice dari proses replanting hingga perawatan, serta menerapkan sistem panen efisien, pengurangan losses, dan pemenuhan standar sertifikasi nasional maupun internasional. “Dengan sistem terintegrasi ini, kami optimistis bisa menjadi pionir produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan industri sawit nasional,” tutupnya.