KAYONG UTARA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berdampak terhadap kesehatan, tetapi juga berpotensi mengganggu proses belajar siswa. Sekolah yang harus diliburkan atau kondisi udara yang tidak sehat dapat mengurangi waktu belajar efektif dan meningkatkan risiko learning loss.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, program KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) bersama Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (DinkesKB) Kabupaten Kayong Utara menggelar sosialisasi Sekolah Lindung Asap di SDN 08 Rangkap.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan konsep ruang kelas yang lebih terlindungi dari paparan asap selama kondisi kualitas udara memburuk.

Project Manager KREASI Kayong Utara, Rizky Fernanda, S.Kom., mengatakan konsep ruang kelas aman asap tersebut merupakan pilot project yang dirancang agar dapat diterapkan secara sederhana dengan melibatkan pihak sekolah dan masyarakat.

“Teknisnya sederhana dan bisa dikerjakan gotong royong. Ventilasi ditutup dakron sebagai filter, exhaust fan dipasang untuk membuang udara dalam yang panas, pengap, dan menjaga sirkulasi udara, lalu ditambah tanaman hias penyerap CO2 seperti lidah mertua di dalam kelas,” jelas Rizky.

Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif mitigasi bagi sekolah ketika kabut asap mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Sementara itu, Sekretaris DinkesKB Kayong Utara, Poerbowo, S.AP., M.Si., mengingatkan bahwa anak usia sekolah termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian ketika kualitas udara memburuk.

Ia menyoroti paparan partikel halus seperti PM2.5 dan PM10 yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Karena itu, langkah pencegahan dinilai penting dilakukan selama periode kabut asap.

“Langkah preventif adalah kunci. Selain membatasi aktivitas fisik di luar saat asap pekat, sekolah perlu membiasakan pengecekan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan edukasi pemakaian masker yang tepat,” tegas Poerbowo.

Upaya tersebut mendapat respons positif dari pihak sekolah dan wali murid. Perwakilan wali murid, Sumantri, mendukung langkah mitigasi yang dilakukan dan berharap ada dukungan penyediaan masker bagi siswa.

Guru SDN 08 Rangkap, Abdul Muis, mengatakan kondisi cuaca dan kualitas udara dapat berubah dengan cepat. Menurutnya, pemantauan kualitas udara secara rutin diperlukan untuk menentukan langkah yang tepat dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Karena itu, pemantauan kondisi udara pada pagi dan sore hari menjadi salah satu hal yang dinilai penting untuk mendukung penerapan ruang kelas pelindung asap.

Sebagai tindak lanjut, petugas Puskesmas Simpang Hilir bersama tim KREASI dan pihak sekolah akan melakukan monitoring serta pengukuran kualitas udara secara berkala di dalam ruang kelas yang telah dimodifikasi.

Pengukuran tersebut akan digunakan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan filter dakron dan exhaust fan dalam membantu mengurangi paparan polutan serta menjaga kondisi udara di dalam ruang kelas.

Program KREASI diharapkan dapat menjadi salah satu model mitigasi berbasis komunitas untuk membantu sekolah tetap menjalankan proses pembelajaran sekaligus memperhatikan perlindungan kesehatan siswa selama kondisi kabut asap.

KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia merupakan program yang didanai Global Partnership for Education dan dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Kementerian Agama. Program tersebut dijalankan oleh Save the Children bersama mitra pelaksana lokal Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah dengan dukungan Pemerintah Kabupaten.