Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Pengendalian Karhutla, PTPN IV PalmCo Tingkatkan Kesiapsiagaan di 12 Kabupaten/Kota Kalimantan
JAKARTA – Puncak musim kemarau panjang yang dipicu oleh fenomenacuaca ekstrem mulai memunculkan dampak di Pulau Kalimantan. Berdasarkanpantauan di sejumlah daerah, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan(karhutla) mulai menyelimuti beberapa wilayah, seperti yang dilaporkan terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sementara itu, Badan PenanggulanganBencana Daerah (BPBD) di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Timur, terusmewaspadai lonjakan titik panas.
Merespons potensi meluasnya bencana karhutla sebagaimana peringatan dariBadan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejumlah entitas bisnis yang memiliki wilayah konsesi di Kalimantan mulai meningkatkan status kesiagaan. Salah satunya adalah PTPN IV PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara yang memilikijangkauan operasional di berbagai wilayah Pulau Kalimantan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, memaparkan bahwapihaknya telah memantau ketat peringatan cuaca dari pemerintah sejak awal tahun. Menurutnya, perusahaan telah memitigasi kemungkinan terburuk dari ancaman El Nino atau musim kemarau yang lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya.
“Kami sudah mewanti-wanti seluruh jajaran di lapangan jauh sebelum masuknyamusim kemarau. Menghadapi potensi El Nino yang bisa mengganas, pendekatannya tidak bisa lagi reaktif untuk memadamkan api. Kita semaksimalmungkin preventif secara menyeluruh termasuk di wilayah sekitar perusahaan sejakdari fase prabencana,” ujar Jatmiko.
Tercatat, operasional PTPN IV PalmCo di Kalimantan membentang di 12 kabupaten/kota yang tersebar di empat provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Luasnya hamparan operasionalini mendorong perusahaan menerapkan sistem mitigasi yang terstruktur guna mencegah api masuk maupun keluar dari wilayah konsesi.
Lebih jauh Jatmiko menjelaskan, langkah preventif yang diambil perusahaanmencakup pemanfaatan teknologi hingga modifikasi infrastruktur agronomi di kebun. PTPN IV PalmCo kini mengintegrasikan sistem deteksi dini berbasis kecerdasanbuatan (artificial intelligence/AI) yang terhubung dengan satelit pemantau hotspot.
“Teknologi pemantauan ini menjadi mata perusahaan dari udara untuk memberikanperingatan dini (early warning system) secara real-time. Namun, sistem secanggihapa pun harus didukung oleh kesiapan infrastruktur di darat. Oleh karena itu, kami secara ketat mengawasi sistem tata kelola air (water management), terutama di lahan gambut. Ketinggian muka air tanah dijaga agar lahan tetap lembap dan tidakmudah terbakar meski cuaca sangat terik,” jelasnya.
Di sisi lain, Jatmiko menegaskan bahwa perusahaan secara absolut menerapkandan mengikat seluruh mitra kerjanya pada kebijakan Tanpa Bakar (Zero Burning Policy). Ia menyadari bahwa karhutla bukan hanya soal kerugian aset ekonomi, melainkan ancaman serius terhadap ekosistem, kualitas udara, dan kesehatanmasyarakat luas.
“Operasional di 12 kabupaten/kota di Kalimantan, yang mana ini bersinggunganlangsung dengan masyarakat desa dan area hutan. Oleh karenanya, kami memandang pengawasan ini bukan semata-mata demi mengamankan konsesiPTPN IV, tetapi bentuk tanggung jawab agar kita sama-sama ingin menjaga rodaekonomi dan aktivitas sosial masyarakat tidak terganggu seperti pengalamankarhutla yang pernah melanda di masa lampau,” papar Jatmiko.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberhasilan mitigasi karhutla sangat bergantungpada kolaborasi lintas sektoral. “Kami tidak bekerja sendiri. Sinergitas denganinstansi terkait seperti Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan Satgas Karhutladaerah telah terjalin kuat. Kami secara aktif menyiagakan fasilitas pemadaman untukturut membantu jika terjadi titik api di ring luar kebun kami,” tambahnya.
Kesiagaan Taktis di Lapangan
Arahan dari tingkat pusat tersebut secara langsung diterjemahkan menjadi tindakantaktis operasional oleh PTPN IV Regional V, yang membawahi wilayah operasionaldi Kalimantan.
Region Head PTPN IV Regional V, Sudarma Bhakti Lessan, menyampaikan bahwasaat ini status patroli lapangan telah dinaikkan menjadi 24 jam penuh di sejumlahtitik yang dikategorikan rawan.
“Untuk memastikan sumber daya manusia kami siap menghadapi kondisi terburuk, kami secara berkala melakukan peningkatan kapasitas. Baru-baru ini, Regional V menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Bimtek Dalkarhutla) di Kalimantan Barat yang diikuti oleh hampir 100 karyawan dariberbagai kebun,” ungkapnya.
Para peserta Bimtek ini merupakan tim Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) yang menjadi ujung tombak perusahaan di lapangan. Mereka tidak hanya bertugas memantau dari menara pantau api, tetapi juga berbaur dan melakukan sosialisasi bersama kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkatdesa.
“Seluruh perlengkapan pemadaman mulai dari alat berat untuk membuat sekatbakar (fire break), armada tangki air, hingga mesin pompa portabel telah dicek dan dipastikan dalam kondisi siap pakai 100 persen. Kami terus berkoordinasi secara riildi lapangan dengan aparat keamanan dan otoritas terkait guna memastikan deteksidini berjalan efektif,” tutupnya.
Ancaman karhutla di Kalimantan diprediksi masih akan berlanjut mengingat puncakmusim kemarau diperkirakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Kesiapan berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun korporasi, kinitengah diuji dalam menjaga langit Kalimantan agar tidak kembali diselimuti kabutasap.
Sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo terus memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan karhutla melaluipenguatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, pengelolaanlingkungan yang bertanggung jawab, serta sinergi dengan seluruh pemangkukepentingan untuk mendukung operasional perkebunan yang aman, berkelanjutan, dan bebas dari praktik pembakaran.

Tinggalkan Balasan