JAKARTAHolding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Sub Holding PTPN IV PalmCo terus memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat melaluipengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) pandai besi agar mampumenjadi bagian dari rantai pasok industri perkebunan kelapa sawit. Setelah suksesmembina pelaku usaha pandai besi di Provinsi Riau, perusahaan kini memperluasprogram serupa di Sumatera Utara sebagai bagian dari strategi menciptakanekosistem usaha yang berkelanjutan.

Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PTPN IV PalmComembina enam IKM pandai besi di Sumatera Utara dan Riau untuk meningkatkankapasitas produksi, memperkuat kelembagaan, serta memenuhi kebutuhan alatoperasional perkebunan.

Enam IKM tersebut terdiri atas Koperasi Berkah Pandai Besi di KabupatenLabuhanbatu Utara, Koperasi Simpati Maju Bersama di Kabupaten Asahan, Koperasi Produsen Pandai Besi Tanah Jawa Simalungun di KabupatenSimalungun, dan Koperasi Produsen Melati Jaya Steel di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Sementara di Provinsi Riau, pembinaan dilakukanterhadap Rumbio Jaya Steel dan Mola Maju Bersama di Kabupaten Kampar.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan pembinaanIKM pandai besi merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memastikankeberadaan industri perkebunan mampu menciptakan nilai tambah bagimasyarakat dan perekonomian daerah.

“Bagi kami, pemberdayaan bukan sekadar memberikan bantuan, tetapimembangun kapasitas dan menciptakan ekosistem usaha yang memungkinkanmasyarakat tumbuh bersama perusahaan. Ketika pandai besi lokal mampumeningkatkan kualitas, memperkuat kelembagaan, dan masuk ke dalam rantaipasok industri, di situlah program pemberdayaan menghasilkan dampak yang nyatadan berkelanjutan,” ujar Jatmiko.

Menurut Jatmiko, keterlibatan IKM lokal dalam memenuhi kebutuhan alatoperasional perkebunan juga menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuatrantai pasok domestik sekaligus mendorong penggunaan produk dalam negeri.

“Industri perkebunan memiliki rantai nilai yang panjang dan harus mampumembuka ruang sebesar-besarnya bagi pelaku usaha lokal. Kami ingin kebutuhanoperasional perusahaan dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarwilayah perkebunan. Karena itu, IKM tidak cukup hanya dibantu untuk bertahan, tetapi juga harus didorong naik kelas, memiliki standar, kepastian pasar, dan dayasaing,” katanya.

Program pemberdayaan tersebut dirancang tidak hanya melalui pemberianbantuan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang mampu tumbuh secaraberkelanjutan. Para pelaku IKM didorong memperkuat tata kelola, meningkatkankapasitas produksi, menjaga kualitas produk, serta memenuhi aspek legalitas dan standardisasi yang dibutuhkan untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri.

Hasil pembinaan mulai menunjukkan dampak ekonomi yang terukur. Di lingkunganPTPN IV Regional II, dua koperasi pandai besi binaan telah mendistribusikansedikitnya 19.579 unit alat operasional perkebunan dengan estimasi nilaipendapatan lebih dari setengah miliar rupiah.

Koperasi Produsen Melati Jaya Steel di Kabupaten Serdang Bedagai yang dipimpinWagiono telah mendistribusikan 11.453 unit alat kepada unit-unit operasional PTPN IV Regional II dengan estimasi pendapatan sebesar Rp287,32 juta.

Sementara itu, Koperasi Produsen Pandai Besi Tanah Jawa Simalungun yang dipimpin Ihfan Prasetia telah memasok 8.126 unit alat dengan estimasi pendapatanRp227,11 juta. Produk yang dihasilkan kedua koperasi tersebut meliputi lima jenisperalatan utama operasional perkebunan kelapa sawit, yakni egrek, dodos, kapak, gancu, dan tojok.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha lokal mampu memenuhikebutuhan industri dalam skala besar ketika memperoleh pendampingan, kepastianpasar, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kapasitas produksi secaraberkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, PTPN IV PalmCo memberikan berbagai bentukpendampingan, mulai dari sosialisasi, pelatihan teknis, studi banding, penguatankelembagaan, dukungan sertifikasi, hingga pengembangan akses pemasaran.

Para pelaku IKM juga memperoleh kesempatan mempelajari standar produksi alatpertanian modern melalui kunjungan ke sentra pandai besi yang telah berhasilmenjadi pemasok industri perkebunan. Transfer pengetahuan tersebut menjadibagian penting dalam meningkatkan kualitas, konsistensi, dan kapasitas produksi.

Pada aspek kelembagaan, perusahaan memfasilitasi pembentukan koperasiberbadan hukum sekaligus membantu proses pengurusan legalitas usaha. Pendampingan juga diarahkan pada pengembangan sertifikasi produk, termasukTingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan Standar Nasional Indonesia (SNI), yang saat ini masih dalam proses.

Selain itu, PTPN IV PalmCo turut menyalurkan bantuan peralatan produksi untukmendukung modernisasi proses kerja sekaligus membuka akses permodalan guna menjaga keberlanjutan produksi dan ketersediaan bahan baku.

Jatmiko menambahkan bahwa transformasi kelompok pandai besi dari bengkel-bengkel kecil menjadi koperasi sekaligus pemasok industri menunjukkanpentingnya kolaborasi jangka panjang antara perusahaan dan masyarakat.

“Yang ingin kita bangun adalah kemandirian. Perusahaan hadir untuk membukaakses, memperkuat kapasitas, dan menciptakan peluang. Namun, tujuan akhirnyaadalah agar para pelaku usaha memiliki kelembagaan yang kuat, produk yang berkualitas, pasar yang berkelanjutan, dan kemampuan untuk terus berkembang. Jika usaha lokal tumbuh, lapangan kerja tercipta, ekonomi daerah bergerak, dan rantai pasok perusahaan semakin kuat,” tutur Jatmiko.

Pendekatan tersebut mendorong pelaku usaha yang sebelumnya bekerja secaraindividual maupun dalam kelompok kecil untuk membangun badan usaha yang lebih tertata. Dengan kelembagaan yang semakin kuat dan kualitas produksi yang terus meningkat, koperasi binaan kini mampu memenuhi kebutuhan perusahaandalam jumlah yang lebih besar.

Perjalanan IKM binaan PTPN IV PalmCo juga menunjukkan bagaimana kemitraanmampu menjadi penyangga usaha pada masa krisis. Pimpinan CV Mola Maju Basamo, Desrico Apriyus, mengingat bagaimana dukungan perusahaan membantukeberlangsungan usahanya saat pandemi COVID-19.

“Waktu itu hampir semua orang kesulitan menjual produk. Ekonomi seperti lumpuh. Tapi justru di situ PTPN hadir. Mereka menyerap produk kami, membimbing kami, dan membantu kami, sehingga kami tetap bisa berproduksi di tengah situasi yang sulit,” ujar Desrico.

Kemitraan tersebut terus berkembang. Pada tahun berikutnya, PTPN tidak hanyaberperan sebagai penyerap hasil produksi (offtaker), tetapi juga memberikandukungan permodalan melalui program kemitraan senilai Rp800 juta.

Dukungan tersebut mendorong konsolidasi bengkel-bengkel kecil menjadi sentrausaha yang lebih produktif, sementara kelompok usaha bersama bertransformasimenjadi badan usaha dengan tata kelola yang semakin kuat.

Melalui program TJSL, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCoterus memastikan bahwa keberadaan industri perkebunan memberikan nilaitambah bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional. Penguatan IKM pandai besimenjadi salah satu wujud nyata keterhubungan antara pemberdayaan ekonomilokal dengan kebutuhan rantai pasok industri.

Kemitraan tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha lokal memiliki peluang untuktumbuh menjadi bagian dari ekosistem industri nasional apabila didukung melaluipendampingan, peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, aksespermodalan, serta kepastian pasar yang berkelanjutan.

Dari bengkel-bengkel sederhana di Sumatera Utara dan Riau, alat-alat produksibuatan pelaku usaha lokal kini telah menjadi bagian dari operasional industri sawitnasional. Transformasi tersebut menjadi bukti bahwa program pemberdayaan yang terintegrasi mampu membuka akses pasar, memperkuat daya saing usaha, menciptakan nilai ekonomi, sekaligus mendorong IKM lokal naik kelas secaraberkelanjutan.