Wagub Kalbar Dorong Penanganan Karhutla Berbasis Kearifan Lokal Wilayah Hulu
PONTIANAK – Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan memperhatikan kearifan lokal, khususnya di wilayah pedalaman Kalbar.
“Saya berasal dari daerah pedalaman dan memahami betul praktik kearifan lokal di sana. Dalam proses penegakan hukum, saya berharap nilai-nilai lokal ini tetap dihargai dan diperlakukan secara adil,” ujar Krisantus.
Ia menyampaikan kekhawatirannya terhadap kecenderungan menyalahkan masyarakat adat peladang sebagai pemicu kebakaran, sementara keberadaan perusahaan besar justru luput dari sorotan.
“Di Kalbar terdapat sekitar 400 perkebunan dan lebih dari 600 usaha tambang. Sering kali lokasi ladang masyarakat berada tak jauh dari area perusahaan. Namun, justru petani kecil yang kerap dijadikan kambing hitam dalam kasus karhutla,” jelasnya.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Kalbar tidak ingin penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran dilakukan secara sepihak tanpa pendekatan persuasif dan edukatif.
Krisantus juga meluruskan persepsi yang keliru mengenai tradisi gawai serentak—perayaan masyarakat atas hasil kerja dalam satu tahun. Ia menegaskan bahwa tradisi tersebut tidak berkaitan dengan pembakaran lahan.
“Gawai serentak itu bentuk syukur masyarakat, bukan aktivitas pembakaran,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Krisantus menyerukan pentingnya kehati-hatian dalam proses hukum serta memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah pusat, lembaga adat, politisi, dan seluruh pemangku kepentingan. Ia mendorong edukasi berkelanjutan agar pembukaan lahan ke depan dilakukan tanpa pembakaran.

Tinggalkan Balasan