Warga Kubu Raya Protes Proyek Koperasi Merah Putih, Dinilai Persempit Saluran Drainase
KUBU RAYA – Warga Desa Jawa Tengah, Dusun Karya II, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, memprotes pembangunan Koperasi Merah Putih yang dinilai mempersempit saluran drainase di lingkungan mereka, Senin (30/3/2026).
Protes warga terjadi di lokasi proyek saat pekerjaan pembangunan berlangsung. Sejumlah warga menyampaikan keberatan karena tiang bangunan disebut berdiri di bibir parit yang selama ini menjadi jalur utama aliran air.
Warga khawatir penyempitan saluran tersebut berpotensi memicu banjir, terutama saat musim hujan.
Salah satu warga, Haryono, mengatakan masyarakat pada dasarnya mendukung pembangunan koperasi. Namun, ia menegaskan dukungan tersebut tidak boleh merugikan lingkungan sekitar.
“Kami mendukung pembangunan, tetapi jangan sampai mengganggu saluran air yang menjadi kebutuhan warga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian badan parit yang sebelumnya memiliki lebar lebih dari 80 sentimeter kini terdampak pembangunan. Padahal, saluran tersebut selama ini berfungsi sebagai jalur pembuangan air limbah rumah tangga.
Menurutnya, warga telah menyampaikan keberatan melalui mediasi bersama pihak kecamatan, pemerintah desa, serta unsur terkait pada Februari lalu. Dalam pertemuan tersebut, disebutkan adanya kesepakatan untuk menggeser posisi tiang bangunan sekitar 50 sentimeter agar aliran air tetap terbuka.
Namun, warga menilai kesepakatan tersebut belum direalisasikan setelah pekerjaan kembali dilanjutkan.
“Pekerjaan sempat dihentikan, tetapi kemudian dilanjutkan tanpa perubahan posisi. Kami berharap kesepakatan bisa dipatuhi,” katanya.
Warga juga menilai penyempitan parit berpotensi memperparah genangan yang selama ini masih terjadi di kawasan tersebut, meskipun ukuran saluran tergolong cukup besar.
Selain itu, kekhawatiran lain muncul terkait aliran air dari atap bangunan yang dinilai terlalu dekat dengan batas lahan warga.
Warga mengaku tidak dilibatkan dalam musyawarah sebelum pembangunan dimulai dan baru mengetahui adanya proyek tersebut saat pekerjaan berlangsung.
Di sisi lain, mandor proyek, Jainal Arifin, menyatakan pihaknya hanya melaksanakan pekerjaan sesuai instruksi yang diterima.
“Kami bekerja sesuai arahan. Jika ada keputusan baru, kami siap menyesuaikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sempat ada rencana pemasangan gorong-gorong sebagai solusi untuk menjaga kelancaran aliran air. Namun hingga kini, belum ada keputusan final dari hasil mediasi antara warga dan pihak terkait.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk mencari solusi agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengganggu sistem drainase dan lingkungan permukiman.

Tinggalkan Balasan