PTPN I, Subholding PTPN III (Persero) Jaga Mutu Tembakau Bawah Naungan (TBN) untuk Cerutu Pasar Global
JEMBER – Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I Regional 5 terus menjaga mutu Tembakau Bawah Naungan (TBN) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, melalui penerapan budidaya presisi yang terintegrasi. Langkah ini dilakukan untuk mempertahankan reputasi tembakau Besuki sebagai salah satu bahan baku wrapper (daun pembungkus luar) cerutu premium terbaik di dunia.
Pendekatan budidaya yang diterapkan memadukan mekanisasi terukur, rekayasa iklim mikro, riset berbasis sains, serta penyempurnaan sistem kerja tradisional bersama para pekerja perkebunan. Seluruh proses dirancang untuk memastikan kualitas fisik daun tetap berada pada standar premium yang dipersyaratkan pasar global.
Saat ditemui di salah satu gudang pengeringan, General Manager Kebun Tembakau Ajong PTPN I Regional 5, Syaifudin Zuhri, menjelaskan bahwa Tembakau Bawah Naungan memiliki karakteristik yang berbeda dengan tembakau rokok rajangan karena diproyeksikan sebagai bahan baku cerutu premium bernilai tinggi.
“Karena sasarannya adalah menghasilkan daun pembungkus luar yang utuh dan mulus, aspek penanganan selama masa tanam menjadi sangat sensitif. Risiko tinggi terhadap kerusakan fisik membuat implementasi mekanisasi tidak bisa diterapkan secara menyeluruh, melainkan dioptimalkan pada tahap pra-tanam dan pengolahan lahan awal seperti pembumbunan, pembuatan guludan, serta proteksi dini tanaman,” kata Syaifudin.
Dalam pengendalian hama, PTPN I bekerja sama dengan Pusat Penelitian (Puslit) Tembakau melalui penerapan inovasi ramah lingkungan berupa yellow trap atau jebakan botol plastik kuning berperekat. Berdasarkan hasil riset, hama seperti kutu kebul (Bemisia tabaci) dan Thrips SP memiliki ketertarikan visual yang tinggi terhadap warna kuning, sehingga metode ini efektif untuk memantau intensitas serangan sekaligus menentukan langkah proteksi yang aman bagi tanaman.
Selain itu, penggunaan jaring peneduh (waring) menjadi bagian penting dalam rekayasa iklim mikro yang telah diterapkan sejak 1988. Sistem naungan ini mengurangi paparan sinar matahari langsung sekitar 30 persen, sehingga tanaman hanya menerima intensitas cahaya sekitar 70 persen.
“Pengondisian lingkungan tumbuh ini terbukti menghasilkan lembaran daun tembakau yang jauh lebih tipis, elastis, dan memenuhi kriteria premium pasar cerutu global.”
Pada tahap pascapanen, PTPN I juga melakukan penyempurnaan proses penyujenan atau perangkaian daun menggunakan tali yute. Setelah mengevaluasi sistem lima lembar (Lemak Orod) yang diterapkan pada periode 2019–2024, perusahaan kini mengadopsi sistem empat lembar (Empak Orod) yang dikenal dengan pola “Pak Erod”. Pola ini memudahkan pekerja menjaga konsistensi posisi daun sehingga menghasilkan warna pengeringan yang lebih seragam.
Seluruh manajemen budidaya Tembakau Bawah Naungan PTPN I dirancang secara by design dengan skema tarik mundur dari target penjualan global pada pertengahan Oktober. Proses tersebut meliputi seleksi lahan eks-padi bersama petani, penentuan jadwal tanam pada Mei–Juni untuk menghindari puncak populasi serangga, pengaturan panen berkala dua lembar setiap tiga hari, hingga rekomendasi dosis pupuk spesifik berdasarkan hasil uji laboratorium tanah yang seluruhnya harus mendapat persetujuan Puslit Tembakau.
Syaifudin menegaskan bahwa bisnis tembakau cerutu memiliki karakteristik yang sangat unik karena indikator utamanya bertumpu pada kualitas, bukan kuantitas. “Orientasi pada kualitas tertinggi ini sangat krusial mengingat disparitas nilai ekonomi antar-grade yang sangat kontras di pasar global.”
Saat ini, harga pasar untuk kualitas Top atau premium dapat mencapai sekitar Rp1 juta per kilogram, sedangkan kualitas Medium berada di kisaran Rp600.000 per kilogram, dan kualitas Low Grade berkisar antara Rp50.000 hingga Rp120.000 per kilogram.
Karena itu, penentuan luas areal tanam setiap tahun sepenuhnya mengikuti komitmen serapan pasar (market demand) dari pembeli luar negeri. Dengan pendekatan tersebut, PTPN I menjaga efisiensi korporasi sekaligus memastikan volume produksi tetap selaras dengan kebutuhan pasar internasional.
Melalui penerapan budidaya presisi, penguatan riset, dan pengelolaan produksi berbasis permintaan pasar, PTPN I terus memperkuat posisi tembakau Besuki sebagai komoditas premium Indonesia yang mampu bersaing di pasar cerutu dunia sekaligus memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi industri perkebunan nasional.

Tinggalkan Balasan