Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Inovasi Sawit Nasional Lewat Program Grant BPDP
JAKARTA – PTPN III (Persero) melalui entitasnya, yakni PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) berpartisipasi dalam penandatanganan 55 perjanjian riset Program Grant Riset Sawit yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) pada awal tahun 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen bersama dalam memperkuat riset dan inovasi sektor kelapa sawit nasional yang berkelanjutan.
Dalam agenda tersebut, Senior Executive Vice President Riset, Inovasi dan Sustainability PT RPN, Tjahjono Herawan, hadir mewakili perusahaan sebagai bentuk keterlibatan aktif dalam pengembangan agenda strategis riset kelapa sawit nasional.
Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, dalam sambutannya menyampaikan bahwa nilai kontrak kerja sama riset yang ditandatangani mencapai Rp88,1 miliar, dengan skema pelaksanaan multi years hingga maksimal dua tahun. Program Grant Riset Sawit merupakan program reguler BPDP yang bertujuan mendorong lahirnya riset aplikatif yang dapat diimplementasikan secara langsung serta memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit nasional.
Selain itu, BPDP juga melaporkan capaian positif dalam komersialisasi hasil riset. Saat ini, puluhan inovasi telah memasuki tahap pilot project maupun siap dikomersialisasikan, dengan dukungan proses valuasi tingkat kesiapan teknologi yang dilakukan bersama Asosiasi Inventor Indonesia (AII).
Partisipasi PT RPN menegaskan peran strategis perusahaan sebagai lembaga riset perkebunan nasional yang berkomitmen mendorong pengembangan riset, inovasi, dan praktik keberlanjutan di sektor kelapa sawit. Sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, PT RPN terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, lembaga penelitian, industri, serta asosiasi guna menghasilkan inovasi yang berdampak nyata terhadap peningkatan produktivitas, efisiensi, dan daya saing industri kelapa sawit Indonesia.
Melalui sinergi yang semakin kuat, perusahaan berharap hasil-hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, tetapi dapat diimplementasikan dan dikomersialisasikan secara luas, sehingga memberikan kontribusi konkret bagi pembangunan sektor perkebunan nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing global.

Tinggalkan Balasan